Saturday, 7 November 2015

Kali ini kita akan membahas tentang Contoh Kalimat Menggunakan Kata "adaptasi". Semoga artikel ini bermanfaat, aamiin.

Contoh Kalimat Menggunakan Kata "adaptasi"


Dengan melihat dan mempelajari contoh-contoh kalimat untuk kata "adaptasi", kita akan terbantu untuk memahami arti dan pengertian dari kata tersebut. Perlu juga kalian pahami bahwa arti dan makna kata tersebut bisa berbeda untuk kalimat-kalimat yang tidak sama.

Bagaimana membuat kalimat dengan menggunakan kata "adaptasi" dalam bahasa Indonesia?
Contoh kalimat yang menggunakan kata "adaptasi" dapat dilihat pada contoh kalimat yang dikumpulkan dari berbagai sumber di internet seperti berikut ini.

Contoh-contoh Kalimat yang Menggunakan Kata "adaptasi"

  1. SEBUAH adaptasi lelucon internet mengisahkan: Seorang perampok bertopeng menodong seorang lelaki perlente di Pondok Indah.
  2. d. Tidur REM penting untuk keseimbangan mental, emosi juga berperan dalam belajar, memori, dan adaptasi (Iskandar J, 2002).
  3. TETAPI, adaptasi satu lelucon internet mengibaratkan sebuah pemerintahan, juga perusahaan, bagaikan sebuah pohon yang digelantungi para monyet.
  4. Pada bagian kedua pengantar kuliahnya, Scott memperkenalkan analisis terhadap sistem birokrasi sebagai adaptasi dari bureaucratic analysis of decision making Graham Allison.
  5. Dalam konteks penyediaan pasokan, diversifikasi adalah salah satu cara adaptasi yang efektif untuk mengurangi risiko produksi akibat perubahan iklim dan kondusif untuk mendukung perkembangan industri pengolahan berbasis sumberdaya lokal.
  6. Bukankah fungsi bahasa, di antaranya adalah untuk melakukan adaptasi dan integrasi sosial? Jadi, sejak Sumpah Pemuda dicetuskan, sejak itulah sesungguhnya terbuka lebar peluang untuk saling memahami berbagai kultur etnik dalam kerangka keindonesiaan.
  7. Dalam hal ini, memang iptek bisa dibeli, dipinjam dan diambil alih dari iptek produk asing, namun dalam penerapannya memerlukan proses adaptasi yang sering lebih rumit daripada mengembangkan iptek baru, (3) nilai budaya atau sikap mental yang siap menilai tinggi suatu prestasi dan tidak menilai tinggi status sosial, karena status ini seringkali dijadikan suatu predikat yang bernuansa gengsi pribadi yang sifat normatif, sedangkan penilai obyektif hanya bisa didasarkan pada konsep seperti apa yang dikemukakan oleh D.C. Mc Clelland (Koentjaraningrat, 1985), yaitu achievement-oriented, (4) nilai budaya atau sikap mental yang bersedia menilai tinggi usaha fihak lain yang mampu meraih prestasi atas kerja kerasnya sendiri.


No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.